Roman Baths di Bath, Jejak Pemandian Romawi yang Bertahan Dua Milenium

Eropa68 Views

Roman Baths merupakan kompleks pemandian kuno di pusat Kota Bath, Inggris. Situs ini berdiri di sekitar mata air panas alami yang telah mengalir selama ribuan tahun. Bangunan Romawi, kuil, saluran air, kolam, dan ribuan benda arkeologi di dalamnya menyimpan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Britania pada masa kekuasaan Romawi.

Kompleks tersebut bukan sekadar tempat membersihkan tubuh. Masyarakat datang untuk beribadah, mencari kesembuhan, bertemu orang lain, berolahraga, dan membicarakan urusan pekerjaan. Kehidupan keagamaan serta kegiatan sosial berlangsung dalam kawasan yang sama.

Roman Baths kini berfungsi sebagai museum dan lokasi arkeologi. Pengunjung dapat berjalan di atas bagian bangunan kuno, melihat Great Bath, mengamati Sacred Spring, serta mempelajari berbagai ruangan yang dahulu digunakan untuk mandi. Air di kolam masih berasal dari sumber panas alami, tetapi pengunjung tidak diperbolehkan menyentuh atau meminumnya.

Kota Bath Tumbuh dari Mata Air Panas

Perjalanan panjang Bath tidak dapat dipisahkan dari mata air panasnya. Air keluar dari dalam tanah pada suhu sekitar 46 derajat Celsius. Setiap hari, lebih dari satu juta liter air kaya mineral mengalir menuju kawasan tersebut.

Sebelum kedatangan bangsa Romawi, masyarakat setempat telah mengenal mata air itu sebagai tempat khusus. Bukti berupa tepian tanah yang menjorok ke sumber menunjukkan bahwa kegiatan pemujaan mungkin sudah berlangsung sebelum pembangunan kuil Romawi.

Ketika pasukan Romawi menguasai Britania pada abad pertama Masehi, mereka melihat potensi besar pada sumber air tersebut. Bangsa Romawi memiliki kebiasaan membangun pemandian umum di kota penting. Keberadaan air panas alami membuat lokasi ini sangat sesuai untuk pembangunan fasilitas yang jauh lebih besar.

Permukiman kemudian berkembang dengan nama Aquae Sulis. Dalam bahasa Latin, nama itu merujuk pada perairan milik Sulis. Kota tersebut menarik pengunjung dari berbagai wilayah Britania dan bagian lain Kekaisaran Romawi.

Sulis Minerva Menyatukan Dua Kepercayaan

Mata air panas berkaitan erat dengan pemujaan terhadap Sulis, dewi yang dihormati masyarakat setempat. Setelah menguasai wilayah tersebut, bangsa Romawi menghubungkan Sulis dengan Minerva, dewi yang dikenal melalui kebijaksanaan, keahlian, perlindungan, dan kemampuan penyembuhan.

Penyatuan tersebut melahirkan nama Sulis Minerva. Cara ini cukup umum dilakukan pemerintahan Romawi ketika berhadapan dengan kepercayaan daerah. Dewa setempat tidak selalu dihapus, tetapi disesuaikan dengan tokoh dalam kepercayaan Romawi.

Masyarakat percaya air panas memiliki kekuatan penyembuhan. Orang yang sakit datang untuk mandi, berdoa, dan meminta pertolongan. Mereka juga membawa persembahan berupa uang, perhiasan, wadah logam, serta benda pribadi.

Kepercayaan kepada Sulis Minerva menjadikan Roman Baths berbeda dari pemandian umum biasa. Pengunjung tidak hanya mendatangi fasilitas kesehatan dan kebersihan, tetapi memasuki kawasan suci yang memiliki aturan, pendeta, altar, serta upacara.

Menurut penulis, kekuatan Roman Baths berada pada pertemuan antara teknologi air dan kepercayaan manusia yang dapat dilihat melalui bangunan serta benda peninggalannya.

Kuil Sulis Minerva Menjadi Pusat Pemujaan

Kuil Sulis Minerva dibangun pada akhir abad pertama Masehi. Bangunannya berdiri di atas podium setinggi lebih dari dua meter dari halaman. Pengunjung harus menaiki tangga sebelum mencapai bagian depan kuil.

Empat tiang besar bergaya Korintus menopang bagian muka yang dihiasi ukiran. Di belakangnya terdapat pintu menuju ruang utama tempat patung pemujaan Sulis Minerva disimpan. Ruangan tersebut tidak memiliki jendela sehingga cahaya hanya berasal dari pintu dan api yang menyala di dalam.

Bagian muka kuil menampilkan wajah berjanggut yang dikelilingi berbagai lambang. Ukiran itu kerap disebut kepala Gorgon, tetapi identitasnya masih diperdebatkan. Wajah tersebut memiliki kumis, sementara gambaran Medusa dalam tradisi klasik biasanya berupa perempuan.

Di sekeliling wajah terdapat lambang kemenangan, helm, makhluk air, karangan daun, dan burung hantu. Unsur tersebut berkaitan dengan Minerva, peperangan, kebijaksanaan, serta air.

Sebagian besar bangunan kuil tidak lagi berdiri. Namun, potongan batu dari bagian muka telah ditemukan dan disusun kembali di museum. Tiga anak tangga menuju kuil masih bertahan pada posisi aslinya.

Kepala Perunggu Minerva Menjadi Temuan Penting

Salah satu koleksi paling terkenal adalah kepala perunggu berlapis emas yang menggambarkan Sulis Minerva. Benda tersebut ditemukan pada 1727 ketika pekerja menggali saluran di pusat Kota Bath.

Kepala itu sedikit lebih besar daripada kepala manusia dewasa. Pada masa Romawi, benda tersebut merupakan bagian dari patung utuh yang ditempatkan di dalam kuil. Lapisan emas membuat patung memantulkan cahaya api sehingga tampil mencolok dalam ruangan gelap.

Patung kemungkinan dihancurkan ketika kegiatan pemujaan Romawi berakhir. Bagian tubuhnya belum ditemukan secara utuh. Hanya kepala yang bertahan dan kemudian menjadi petunjuk penting mengenai besarnya kompleks kuno di bawah kota.

Patung perunggu berlapis emas sangat jarang ditemukan di Britania. Kepala Sulis Minerva membantu ahli memahami kemampuan pengerjaan logam, tampilan kuil, dan cara masyarakat menggambarkan dewi yang mereka hormati.

Permukaannya kini tidak lagi seluruhnya tertutup emas. Beberapa bagian masih memperlihatkan sisa lapisan yang memberi bayangan mengenai penampilannya pada masa lalu.

Sacred Spring Mengalir di Jantung Kompleks

Sacred Spring merupakan pusat dari seluruh kompleks Roman Baths. Air panas naik dari dalam tanah dan dikumpulkan dalam sebuah wadah batu. Insinyur Romawi melapisi bagian tersebut dengan timbal agar air tidak merembes keluar.

Fondasi sumber dibangun di atas tiang kayu ek yang ditanam dalam tanah basah. Keadaan tanpa banyak oksigen membantu kayu bertahan selama hampir dua ribu tahun. Fondasi itu masih memberikan dukungan bagi struktur hingga sekarang.

Pada masa awal, sumber air berbentuk kolam terbuka di sudut halaman kuil. Sekitar abad kedua, bagian tersebut ditutup dengan bangunan beratap lengkung. Patung dan tiang ditempatkan di sekitarnya untuk menciptakan suasana yang lebih khidmat.

Air dari Sacred Spring dialirkan menuju ruang pemandian dan saluran besar yang berakhir di Sungai Avon. Sebagian sistem aliran yang dibangun bangsa Romawi masih bekerja. Air terus bergerak melalui jalur kuno meskipun bangunan di atasnya telah mengalami berbagai perubahan.

Atap di atas sumber akhirnya runtuh sekitar abad keenam hingga kesembilan. Potongan bangunan, persembahan, serta benda lain jatuh ke dalam air dan kemudian ditemukan melalui penggalian.

Great Bath Menjadi Bagian Paling Terkenal

Great Bath merupakan kolam besar yang menjadi pusat fasilitas pemandian. Kolam tersebut memiliki kedalaman sekitar 1,6 meter dan dilapisi 45 lembar timbal tebal. Empat anak tangga mengelilingi bagian dalam sehingga pengguna dapat masuk dari berbagai sisi.

Air panas mengalir langsung dari Sacred Spring. Bagi masyarakat Romawi yang hidup dalam cuaca Britania, berenang di kolam hangat merupakan pengalaman istimewa. Pemandian lain biasanya memakai tungku untuk memanaskan ruangan dan air, sedangkan Bath menerima pasokan panas dari alam.

Great Bath awalnya memiliki atap kayu. Pada abad kedua, atap itu digantikan dengan struktur keramik yang lebih berat. Tiang penyangga harus diperkuat hingga sebagian bentuknya menjorok ke dalam kolam.

Atap mencegah banyak cahaya masuk sehingga pertumbuhan alga dapat ditekan. Setelah atap hilang dan kolam terbuka, sinar matahari membantu alga berkembang. Hal tersebut membuat air Great Bath terlihat hijau pada masa sekarang.

Patung tokoh Romawi yang terlihat di bagian teras bukan berasal dari zaman kuno. Patung tersebut ditambahkan pada akhir abad ke 19 ketika kawasan museum dan bagian atas kompleks mengalami pembangunan.

Pemandian Romawi Memiliki Rangkaian Ruangan

Mandi dalam kebiasaan Romawi dilakukan melalui beberapa tahap. Pengunjung tidak langsung masuk ke satu kolam, membersihkan tubuh, lalu pergi. Mereka berpindah melalui ruang dengan suhu berbeda sambil berolahraga, bersantai, dan menerima perawatan.

Perjalanan dapat dimulai dari apodyterium atau ruang ganti. Pengunjung melepaskan pakaian dan menyimpan barang. Keamanan barang menjadi persoalan karena pencurian ternyata juga terjadi di dalam kompleks.

Setelah itu, pengunjung memasuki tepidarium yang memiliki suhu hangat. Tubuh beradaptasi sebelum bergerak menuju caldarium yang lebih panas. Ruangan panas membantu mengeluarkan keringat dan membuka permukaan kulit.

Laconicum memberikan panas kering yang kuat. Air dapat dipercikkan untuk menghasilkan uap. Pengunjung kemudian mengoleskan minyak zaitun ke tubuh dan mengikis kotoran menggunakan alat melengkung yang disebut strigil.

Rangkaian mandi biasanya diakhiri dengan berendam atau menceburkan diri ke air dingin. Perubahan suhu dianggap menyegarkan tubuh. Proses tersebut membutuhkan waktu dan menjadi bagian dari kebiasaan harian masyarakat tertentu.

Sistem Hypocaust Mengalirkan Panas dari Bawah Lantai

Bangsa Romawi menggunakan sistem pemanas yang dikenal sebagai hypocaust. Lantai ruangan dibangun di atas tumpukan ubin kecil sehingga terbentuk ruang kosong. Udara panas dari tungku dialirkan melalui bagian bawah lantai dan rongga di dalam dinding.

Cara tersebut membuat ruangan menjadi hangat tanpa menempatkan api langsung di dekat pengguna. Suhu dapat diatur melalui jumlah bahan bakar dan aliran udara. Pekerja harus terus menjaga tungku agar fasilitas tetap berfungsi.

Sisa tumpukan ubin hypocaust masih dapat dilihat di West Baths. Susunannya memperlihatkan bagaimana lantai ditopang sambil menyediakan jalur bagi udara panas. Sebagian dinding juga memakai ubin berbentuk kotak untuk membantu mengalirkan panas ke atas.

Pemanasan membutuhkan kayu dalam jumlah besar dan tenaga kerja. Budak atau pekerja menangani tungku, membawa bahan bakar, membersihkan ruangan, serta membantu pengunjung.

Teknologi tersebut menunjukkan bahwa Roman Baths merupakan bangunan dengan pengelolaan rumit. Pasokan air, suhu, pembuangan, kebersihan, dan pemeliharaan harus berjalan bersamaan.

East Baths dan West Baths Melayani Banyak Pengunjung

Kompleks Roman Baths memiliki rangkaian ruangan di bagian timur dan barat. East Baths mencakup kolam hangat yang menerima aliran dari Great Bath serta beberapa ruang berpemanas.

Bangunan terus diperluas hingga mencapai ukuran terbesar sekitar abad keempat. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa jumlah pengguna dan kebutuhan fasilitas meningkat. Ruangan lama diperbaiki, sedangkan bagian baru ditambahkan.

West Baths juga memiliki ruang panas dan kolam. Keberadaan dua rangkaian fasilitas mungkin memungkinkan laki laki dan perempuan menggunakan pemandian pada waktu yang sama, tetapi tetap berada di area terpisah.

Pemisahan tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama di seluruh Kekaisaran Romawi. Beberapa tempat menetapkan jam berbeda untuk laki laki dan perempuan. Di Bath, susunan dua kelompok ruangan memberi kemungkinan pemisahan secara fisik.

Selain mandi, pengunjung dapat berbincang, makan, bermain, berolahraga, dan menerima pijatan. Pemandian berfungsi seperti pusat pertemuan masyarakat dengan layanan yang lebih luas daripada kolam umum.

Ribuan Koin Dilemparkan sebagai Persembahan

Lebih dari 12.000 koin Romawi ditemukan di Sacred Spring. Jumlah tersebut menjadi salah satu kumpulan persembahan uang terbesar yang diketahui dari Britania. Koin dilemparkan sebagai hadiah kepada Sulis Minerva.

Nilai dan asal koin beragam. Benda tersebut membantu ahli meneliti masa penggunaan sumber, peredaran uang, serta hubungan Bath dengan wilayah lain. Koin yang berasal dari periode berbeda menunjukkan bahwa kegiatan persembahan berlangsung dalam waktu panjang.

Selain uang, ditemukan perhiasan, bros, gelang, wadah, dan benda logam. Sebagian mungkin sengaja diberikan, sedangkan beberapa lainnya dapat terjatuh tanpa disengaja.

Wadah bertangkai yang disebut patera kemungkinan digunakan untuk mengambil atau mempersembahkan air. Sejumlah wadah memuat tulisan yang menunjukkan penghormatan kepada Sulis Minerva.

Benda kecil tersebut memberi informasi mengenai orang yang datang. Tidak semua pengunjung meninggalkan catatan panjang, tetapi pilihan persembahan menunjukkan hubungan pribadi mereka dengan mata air dan sang dewi.

Tablet Kutukan Menyimpan Keluhan Masyarakat

Sekitar 130 tablet kutukan ditemukan di Roman Baths. Tablet itu berupa lembaran kecil dari timbal atau campuran logam yang ditulisi permohonan kepada Sulis Minerva. Banyak isinya berkaitan dengan barang yang dicuri.

Korban menuliskan nama tersangka jika diketahui atau membuat daftar beberapa orang yang dicurigai. Mereka meminta dewi mengembalikan barang sekaligus menghukum pelaku. Setelah ditulis, lembaran dapat dilipat dan dilemparkan ke Sacred Spring.

Barang yang disebut tidak selalu mahal. Pakaian, sarung tangan, uang, dan benda keseharian menjadi sumber kemarahan. Isi tersebut memperlihatkan sisi pribadi masyarakat Romawi yang jarang muncul dalam catatan resmi.

Sebagian tulisan dibuat terbalik atau menyerupai tulisan cermin. Cara itu mungkin dipilih agar pesan hanya dapat dipahami oleh dewi. Bahasa yang digunakan juga memberikan informasi mengenai kemampuan tulis dan percampuran bahasa di Britania Romawi.

Tablet dari Bath tercatat dalam Memory of the World Register UNESCO. Nilainya terletak pada suara masyarakat biasa yang menyampaikan kehilangan, kecurigaan, serta tuntutan keadilan.

Menurut penulis, tablet kutukan membuat Roman Baths terasa dekat karena persoalan kehilangan barang dan kemarahan korban tetap mudah dipahami setelah hampir dua ribu tahun.

Kompleks Mengalami Kemunduran setelah Kekuasaan Romawi

Ketika pemerintahan Romawi di Britania melemah pada awal abad kelima, pemeliharaan kompleks ikut menurun. Sistem atap, saluran, dan bangunan memerlukan tenaga serta biaya besar yang tidak lagi tersedia.

Banjir membawa lumpur ke kawasan pemandian. Bangunan mulai rusak dan sebagian runtuh. Sacred Spring tetap mengalir, tetapi fasilitas Romawi secara perlahan tertimbun oleh tanah serta pembangunan periode berikutnya.

Masyarakat pada Abad Pertengahan tetap menggunakan sumber panas. Nama King’s Spring diberikan setelah dikaitkan dengan Raja Henry I. Bangunan pemandian baru kemudian didirikan di atas bagian yang sebelumnya digunakan bangsa Romawi.

Kota Bath kembali berkembang sebagai pusat pengobatan dan kegiatan sosial, terutama sejak akhir abad ke 17 dan sepanjang abad ke 18. Bangunan bergaya Georgia mengubah wajah kota, sementara sisa Romawi tetap tersembunyi di bawah jalan serta bangunan.

Penggalian dan penemuan bertahap mengungkap skala pemandian lama. Pembangunan museum memungkinkan sisa bangunan dipertahankan di bawah pusat kota yang terus digunakan.

Bath Memperoleh Pengakuan Warisan Dunia

Kota Bath masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1987. Pengakuan diberikan karena perpaduan peninggalan Romawi, budaya spa, tata kota, arsitektur Georgia, dan hubungan kawasan dengan bentang alam sekitarnya.

Roman Baths menjadi salah satu unsur utama dalam penilaian tersebut. Sisa kuil dan pemandian dipandang sebagai peninggalan Romawi penting di sebelah utara Pegunungan Alpen.

Pada 2021, Bath juga menjadi bagian dari kelompok Great Spa Towns of Europe. Pengakuan ini menghubungkan Bath dengan kota spa lain di Eropa yang berkembang melalui pemanfaatan sumber mineral.

Perlindungan situs membutuhkan pengawasan terhadap air, batu, logam, kelembapan, pertumbuhan organisme, serta tekanan dari jumlah pengunjung. Setiap perbaikan harus mempertahankan bagian asli dan tetap memungkinkan masyarakat memahami susunan bangunan.

Pengunjung Tidak Boleh Menyentuh Air Great Bath

Air Great Bath tidak diolah untuk kontak langsung sehingga pengunjung dilarang menyentuh, meminum, atau masuk ke dalamnya. Warna hijau berasal dari pertumbuhan alga akibat paparan cahaya.

Larangan ini berbeda dari pengalaman spa modern di Bath. Wisatawan yang ingin berendam harus mendatangi fasilitas lain yang dirancang untuk penggunaan umum. Roman Baths sendiri merupakan museum, bukan pemandian aktif.

Pada titik tertentu di dekat Pump Room, tersedia air spa dari sumber yang diambil melalui jalur terkontrol dan diuji. Air tersebut mengandung puluhan jenis mineral serta memiliki rasa yang tidak biasa.

Rute kunjungan Roman Baths berjalan satu arah. Permukaan batu, anak tangga, dan beberapa bagian yang tidak rata perlu diperhatikan. Tas besar serta koper tidak diizinkan masuk, sementara tempat penyimpanannya tidak tersedia di dalam kompleks.

Pengunjung sebaiknya menyediakan waktu yang cukup untuk melihat museum, kuil, Sacred Spring, East Baths, West Baths, dan Great Bath. Kunjungan yang terlalu cepat dapat membuat banyak benda kecil serta penjelasan arkeologi terlewatkan.